Eksistensialisme dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Dalam dunia ini
pasti akan muncul banyak pertanyaan tentang alam semesta baik tentang siapakah
yang menciptakan alam semesta ini sampai bagaimana alam semesta ini dapat
terbentuk. Apakah manusia berada karena
didahului oleh eksistensi atau esensi? Manusia adalah makhluk berfikir, ia tahu
bahwa ia berfikir. Jadi tidaklah semuanya manusia itu filsuf. Oleh karena itu,
sejak zaman dahulu banyak para pemikir yang berusaha memecahkannya sehingga
lahirlah filsafat. Kata filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu Philosophia
yang terdiri dari kata philos yang berarti cinta dan Sophia yang
ebrarti kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan. Jadi, filsafat berarti cinta
pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan. Akan tetapi, pengertian dari
segi bahasa ini belum cukup menjelaskan tentang filsafat. Berfilsafat adalah
berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan mengunakan pemikiran
secara serius. Berfilsafat semata-mata berarti bahwa orang mengupas
kalimat-kalimat yang membayangkan arti yang lebih tinggi daripada arti dalam
ilmu, sebagai kalimat – kalimat yang palsu. Jadi, dapat diartikan bahwa
filsafat adalah cara berpikir kritis untuk menemukan tentang segala
sesuatu.
Dalam
dunia pendidikan, begitu kompleks permasalahan yang muncul dan harus dipecahkan
dengan maksud agar tercapainya tujuan pendidikan. Karenanya, hal tersebut
memunculkan timbulnya filsafat pendidikan dimana di dalamnya terbagi-bagi lagi
menjadi berbagai macam aliran. Salah satunya, adalah aliran pendidikan filsafat
eksistensialisme.
Eksistensialisme
adalah aliran yang cenderung memandang manusia sebagai objek hidup yang
memiliki taraf yang tinggi, dan keberadaan dari manusia ditentukan dengan
dirinya sendiri bukan melalui rekan atau kerabatnya, serta berpandangan bahwa
manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat eksis dengan apapun
disekelilingnya karena manusia disini dikaruniai sebuah organ urgen yang tidak
dimiliki oleh mahluk hidup lainnya sehingga pada akhirnya mereka dapat
menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan dan selalu eksis dalam setiap
hidupnya dengan organ yang luar biasa hebat tersebut.
Eksistensialisme
memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah individu. Dimana, eksistensialisme
memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi
seseorang, apa yang benar untuk seseorang. Secara umum, eksistensialisme
menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia, dan tindakan
konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat
manusia atau realitas.
Eksistensialisme
sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat pembicaraan eksistensialisme
adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
Menurut Callahan, filsafat pendidikan Eksistensialisme berpendapat bahwa
kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu
sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan
menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa
orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri.
Aliran eksistensialisme memandang pendidikan mengutamakan perorangan/ individu, memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya, percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya, membatasi murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.
Aliran eksistensialisme memandang pendidikan mengutamakan perorangan/ individu, memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya, percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya, membatasi murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.
Eksistensialisme
menjadi tonggak penting perkembangan pendidikan. Manusia adalah subjek bagi
kehidupan, maka tidak boleh direduksi menjadi sekrup dalam mesin ilmu
pengetahuan dan teknologi. Eksistensialisme memberikan pencerahan bahwa
pendidikan tidak semestinya membelenggu manusia. Menurut Fasli Jalal dan Dedi
Supriadi bahwa hal yang ada kesejalanan dengan acuan filosofis strategi
Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional perlu memiliki karakteristik yang
(a) mampu mengembangkan kreativitas, kebudayaan dan peradaban; (b) mendukung
dimenasi nilai keunggulan; (c) mengembangkan nilai-nilai demokrasi,
kemanusiaan, keadilan dan keagaman; (d) mengembangkan secara berkelanjutan
kinerja kreatif dan produktif yang koheren dengan nilai-nilai moral. Inti dari
ajaran aliran filsafat ini adalah respek terhadap individu yang unik pada
setiap orang. Eksistensi mendahului essensi kita masing-masing. Kaum eksistensi
menolak filsafat-filsafat tradisional dan menolak eksistensi keberadaan ihwal
metafisika, epistimologi, dan etika. Setiap individu menentukan untuk dirinya
sendiri apa itu benar, salah, indah, jelek. Pendidikan seyogyanya menekankan
refleksi personal yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri. Manusia
adalah essensi dirinya. Kaum eksistensialisme menganjurkan bahwa pendidikan
sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangun
nalar.
Tujuan
pendidikan menurut pandangan eksistensialisme adalah untuk mendorong setiap
individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri dengan
memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk
kehidupan.
Pengetahuan
manusia tergantung kepada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada
interpretasi manusia terhadap realitas, pengetahuan yang diberikan di sekolah
bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk
dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah
akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin
yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut.
Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam
kebenaran.
Dalam dunia
pendidikan tidak terlepas dari kurikulum. Eksistensialisme
menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian
individu akan makna dan muncul dalam suiatu tingkatan kepekaaan personal yang
disebut Greene
“kebangkitan yang luas”. Kurikulum
ideal adalah kurikulum yang memberikan para siswa kebebasan individual yang
luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik
kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri.
Selain
itu dalam kegiatan belajar mengajar, pengetahuan tidak
dilimpahkan melainkan ditawarkan. Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode,
tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai
kebahagiaan dan karakter yang baik.
Diskusi
merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak
untuk menolak interpretasi guru tentang mata pelajaran. Sekolah merupakan suatu
forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru
membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.
Untuk
menjadikan hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka
pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari
pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa
sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru
tidak merupakan suatu yang diberikan kepada siswa yang tidak
dikuasainya,melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya
sendiri.
Para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi
mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari
kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang,
tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka sukai :
logika menunjukkan bahwa kebebasan memiliki aturan, dan rasa hormat akan
kebebasan orang lain itu penting.
Guru
hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam
suatu dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan
mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbingsiswa untuk memilih alternatif-alternatif,
sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia
melainkan dipilih oleh manusia. Lebih dari itu, siswa harus menjadi faktor
dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras
seperti gurunya.Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan
seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif dengan melalui
pertanyaan-pertanyaan.
Berikut ini
peranan tenaga pendidik dalam pandangan eksistensialisme,
- Menemukan pembawaan pada anak didiknya dengan jalan observasi, wawancara, pergaulan, angket dan sebagainya.
- Berupaya menolong anak didik dalam perkembangannya. Agar pembawaan buruk tidak dapat berkembang dengan subur mendekati kemungkinannya.
- Menyajikan dan mencarikan jalan yang terbaik dan menunjukkan perkembangan yang tepat.
- Setiap waktu mengadakan evaluasi untuk mengetahui apakah perkembangan anak didik dalam usaha mencapai pendidikan sudah berjalan seperti yang diharapkan.
- Memberikan bimbingan dan penyuluhan pada anak didik pada waktu mereka menghadapi kesulitan dengan cara yang sesuai dengan kemampuan anak didik dan tujuan yang dicapai.
- Dalam menjalankan tugasnya, pendidik wajib selalu ingat bahwa anak sendirilah yang berkembang berdasarkan bakat yang ada padanya.
- Pendidik senantiasa mengadakan penilaian atas diri sendiri untuk mengetahui apakah hal-hal yang tertentu dalam diri pribadinya yang harus mendapatkan perbaikan.
- Pendidik perlu memilih metode atau teknik penyajian yang tidak saja disesuaikan dengan bahan atau isi pendidikan yang akan disampaikan namun disesuaikan dengan kondisi anak didiknya.
Filsafat
eksistensialisme lebih menfokuskan pada pengalaman-pengalaman manusia. Dengan
mengatakan bahwa yang nyata adalah yang dialaminya bukan diluar kita. Jika
manusia mampu menginterpretasikan semuanya terbangun atas pengalamannya.
tujuan pendidikan adalah memberi pengalaman yang luas dan kebebasan namun
memiliki aturan-aturan. Peranan guru adalah melindungi dan memelihara kebebasan
akademik namun disisi lain guru sebagai motivator dan fasilitator.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar